SEKILAS INFO
: - Sunday, 18-04-2021
  • 2 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
BUKU: MANHAJ AL-AZHAR; SEJARAH RUWAQ AL-AZHAR. HAL. 9-10 (BAG.5)

Pembaca               : Iffah

Editor                    : Nihayatu Aulia

Suara                     : Titik Fitriyah

Masjid Al-Azhar adalah sebuah masjid kuno yang terletak di jantung kota kairo, yang didirikan atas perintah Jawhar Ash-Shiqilli, panglima besar daulah Fathimiyah pada masa Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah. Pada masa itu Masjid Al-Azhar digunakan sebagai pusat penyebaran paham Syiah. Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah selaku jenderal tertinggi saat itu mengutus sejumlah ulama syiah untuk menyebarkan ilmunya di Masjid Al-Azhar. Banyak dibentuk halaqah (majelis) ilmu di Masjid Al-Azhar yang digunakan untuk menyebarkan faham Syiah.

Awal kali dibangun, masjid ini hanya berbentuk satu bangunan yang terbuka dibagian tengahnya, dan hanya ada tiga Ruwaq yang digunakan sebagai tempat untuk belajar mengajar pada saat itu. Yaitu Ruwaqu ‘l-Jabarut, Ruwaqu ‘l-Atrak, dan Ruwaqu ‘l-Magharibah. Ruwaq adalah sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan tempat bermukim para santri Al-Azhar. Kehadiran Ruwaq memang tidak bisa dipisahkan dengan adanya Masjid Al-Azhar sebagai pusat institusi keilmuan islam yang telah berdiri sejak 1000 tahun silam.

Pada awalnya, Ruwaq adalah bagian atau ruangan dalam masjid yang masih kosong, yang terletak di sisi-sisi serambi masjid, memutari bagian tengah masjid khas timur tengah dan terbuka tanpa atap. Kemudian di ruangan kosong itu dibangunlah tembok pemisah antara satu ruangan dengan ruangan lainnya, dan diberi nama ruwaq; sebuah ruangan klasik arab tempo dulu dengan ukiran-ukiran kaligrafi arab kuno, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya.

Pada era pemerintahan Dinasti Fathimiyah, Masjid Al-Azhar digunakan untuk menyebarkan faham Syiah. Namun seiring runtuhnya dinasti fathimiyah di muka bumi ini, hilanglah penyebaran paham syiah dari Masjid Al-Azhar, dan berganti orientasi kepada paham Ahlussunnah wal jamaah, sejak mesir dipimpin oleh panglima tertinggi Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 567 H. Paham sunni tersebut tetap terlestarikan di bawah bendera Al-Azhar hingga saat ini.

Masjid Al-Azhar sering digunakan sebagai tempat beristirahat dan berteduh oleh sebagian masyarakat mesir maupun asing, dan tak jarang juga yang menggunakannya sebagai tempat menimba ilmu siang dan malam. Pada abad IX H., jumlah orang yang bermukim di dalam Masjid Al-Azhar mencapai angka 750 orang (laki-laki). Mereka terdiri dari para pelajar, orang-orang miskin, dan orang-oarang yang kehabisan bekal dalam perjalanannya. Selain bermukim, mereka juga mendapat berbagi bantuan makanan selama tinggal dalam masjid, baik berupa makanan, minuman, maupun kebutuhan pokok lainnya.

Di dalam masjid mereka mendapat tempat khusus untuk tiap kelompok dari mereka yang datang dan menetap dengan latar belakang dan adat yang berbeda, dan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya sejumlah ruwaq dalam Masjid Al-Azhar, semisal Ruwaq al-Atrak dari turki, Ruwaq Jawa dari jawa, Ruwaq Magharibah dari Maghrib (maroko) dan selainnya.

Disisi lain, terdapat ruwaq yang diberi nama bukan dari latar belakang daerah atau negara, tapi berasal dari latar belakang madzab, seperti Ruwaq Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah.

Fungsi ruwaq selain digunakan sebagai tempat belajar mengajar, juga digunakan sebagai tempat membagi-bagikan sedekah dari sejumlah dermawan dan bangsawan yang bermaksud untuk memakmurkan masjid dengan memberi santunan kepada mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda