SEKILAS INFO
: - Wednesday, 26-02-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Islam itu Candu (?)

 

 

Eh bro, kenapa ya umat Muslim sekarang banyak yang tertindas? Mulai dari aspek sosial, ekonomi, politik, bahkan teknologi. Mana harga diri umat Muslim?”

“Alah, biarin aja. Orang kafir itu jaya di dunia doang, di akhirat nanti baru lah kita balas dendam. Santai, nikmat dunia dibanding akhirat itu 1 banding 99. Udah gitu dunia cuma sementara, yang abadi itu surga bro!”.

Kalimat tersebut sering berseliweran di tengah-tengah masyarakat muslim sekarang. Ia berfungsi sebagai penenang atas kekalahan mereka yang seolah memberi harapan akan kemenangan di alam lain (akhirat). Dari sini, terlihat fungsi ajaran Islam sebagai narkotika yang menghanyutkan umat atas janji keselamatan di saat mereka lapar dan menderita. Suatu hal yang bertentangan dari apa yang diajarkan sang nabi untuk menjadi umat yang layak dicontoh.

Mayoritas umat muslim dalam rentang sejarah terakhir ini memperlakukan Islam sebagai ruang psikiater tempat umat berkeluh kesah dan lari dari kenyataan. Di sana, mereka mengadu atas kesalahan hidup yang mengganggu kenyamanan rutinitas keseharian. Akan tetapi, solusi yang didapatkan dari (pemuka) agama justru menyuruh umat untuk tenggelam ke dalam fantasi kehidupan akhirat dan mengabaikan nasib di dunia karena dinilai menjauhkan mereka dari Allah Swt. Kehidupan dunia diibaratkan hanya sebatas mampir ngombe yang bersifat sementara sedangkan akhirat ialah kehidupan yang hakiki dan abadi. Oleh karenanya, mereka memilih untuk tetap menderita hingga akhir hayatnya demi meraih kebahagiaan di alam baka.

Di sisi lain, menurut Asghar Ali, para pemuka agama (ulama) keranjingan dengan perang pemikiran perihal ‘langit’. Mereka berkutat pada problem-problem metafisika yang sangat abstrak dan jarang menyentuh masalah-masalah eksistensi kaum muslim di tengah percaturan global. Ajaran agama hanya dijadikan wahana latihan intelektual untuk meningkatkan kealiman pribadi yang tidak berpengaruh apapun terhadap realitas sekitar. Terkesan bahwa belajar agama adalah proses kenaikan kasta seseorang untuk menegakkan hierarki antara orang alim dan awam. Selain itu, lembaga keagamaan (LSM berbau Islam) sedang mengalami disfungsi karena kealpaannya membela umat yang tertindas atas perilaku pemerintah dan kapitalis. Status keagamaan pada sebuah lembaga malah digunakan untuk melanggengkan status quo ‘kemapanan’ secara religius dan politis. Walhasil, energi perjuangan lembaga tersebut tersalurkan untuk melobi peruntungan kekuasaan politik, bukan untuk menyuarakan aspirasi atau kontekstualisasi ajaran agama untuk menyejahterakan kaum miskin.

Dapat disimpulkan bahwa mereka (masyarakat awam, pemuka agama dan lembaga keagamaan) memiliki tata cara tersendiri untuk mencandu agama. Terperangkapnya mereka dalam efek candu agama disebabkan oleh rasa inferior sebagai umat yang kalah dalam persaingan global. Mereka merasa tidak dapat mengubah realitas sehingga memilih untuk menciptakan dunia sendiri dengan segudang angan-angan kebahagiaan yang hiperbolis. Melihat kondisi tersebut, maka “Shodaqo Karl Marx al-adziem” yang mengatakan bahwa agama merupakan refleksi dari alienasi manusia dalam masyarakat yang setiap harinya merasa tertekan dengan kekuatan kapitalisme.

Tak dapat dipungkiri bahwa agama merupakan bagian dari manusia sebagai pedoman untuk menjalani setiap rangkaian fenomena di ruang sejarahnya. Akan tetapi, ketika beragama justru membuat manusia semakin terpuruk dan tidak lagi mengenal dirinya sebagai makhluk yang ber-realitas, lantas apa untungnya memiliki agama? Jika dikontekskan terhadap Islam, di saat ia dihayati justru membuat kita terbuai mimpi-mimpi hiperbolik akhirat tanpa memedulikan nasibnya di dunia, lantas apa gunanya kita ber-Islam?

Oleh: Arry Muhammad

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda