SEKILAS INFO
: - Sunday, 05-07-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Sisi Lain dari Iblis

Sisi Lain dari Iblis
Oleh: Arry Muhammad


Iblis yang sering kali diklaim sebagai sebab dari narasi panjang penderitaan umat manusia di dunia sebelumnya adalah makhluk yang paling beriman. Jauh sebelum penciptaan Adam, Iblis telah terlebih dahulu membaktikan cintanya yang begitu mukhlis kepada Allah. Dia senantiasa bermesraan dengan Sang Kekasih sebagai bukti bahwa cinta miliknya benar-benar satu dan tiada duanya. Sebuah pengabdian yang bahkan tidak dapat disamai oleh para malaikat. Karena ketekunannya, Iblis sempat dinobatkan sebagai makhluk paling mulia dan diangkat menjadi imam bagi penduduk langit. Penghambaan Iblis telah membukakan pintu ma’rifatullah sebagai modal terbesarnya dalam mencintai Allah.
Tauhid Iblis dalam memanunggalkan Allah tetap ia pertahankan bahkan ketika Dia menciptakan Adam dan menitahkan seluruh penghuni langit untuk sujud kepadanya. Meskipun hanya sebagai simbol penghormatan, Iblis tidak rela. Menurutnya, hanya Allah-lah Zat yang pantas disembah dan menerima kerekatan dahinya dengan tanah. Sujud kepada zat selain-Nya jelas bertentangan dengan prinsip ketauhidan yang ia yakini. Iblis bereaksi keras terhadap sesuatu yang tak lazim diwajibkan ke budaya surga saat itu, semisal keharusan tunduk dan sungkem ke Adam. Adat istiadat surgawi saat itu adalah menjadikan Allah sebagai sentra peribadatan, termasuk tempat berkumpulnya seluruh tata cara penyembahan.
Dalam situasi ini, Iblis dihadapkan kepada dua pilihan yang sangat sulit baginya. Jika dia tidak mau sujud kepada Adam, berarti dia telah melanggar perintah Allah. Namun jika dia bersujud kepada Adam, dia telah syirik tersebab prinsip tauhid mensyaratkan demikian. Dua-duanya adalah dosa besar, baik melanggar perintah Allah atau berbuat syirik pada-Nya. Bagai memakan buah simalakama, dimakan bapak mati tidak dimakan ibu mati.
Akhirnya, berbekal logika dan keyakinan, Iblis menolak perintah Allah. Dia hanya akan sujud kepada Allah tidak kepada makhluk lainnya. Saat itu, Iblis mengira bahwa Allah sedang menguji keimanannya, akankah dia tergoda untuk sujud kepada Adam atau tidak. Akan tetapi, ternyata sikap Iblis ini dipandang salah oleh Allah Swt kemudian mengecapnya sebagai makhluk durhaka dan mengusirnya dari surga. Hal ini membuat Iblis teramat kecewa dan terpaksa mengambil peran sebagai simbol kejahatan dan dosa. Sikap tersebut diabadikan dan menuai apresiasi dari beberapa pelaku tasawuf. Salah satunya adalah al-Hussain Bin Manshur al-Hallaj, seorang sufi Persia (w. 301 H) yang dalam karyanya Thawasin berkata, “Tidak ada makhluk yang memiliki tauhid (murni) kepada Allah kecuali Iblis”.
Lakon Iblis sebagai sumber keburukan adalah keniscayaan sebagaimana dituliskan Haidar Baghir dalam buku Semesta Cinta, “keburukan dibutuhkan sama seperti kebaikan demi menjadikan dunia ciptaan sebagai dunia terbaik yang mungkin (the best of all the possible worlds atau ahsan al-nizhâm)”. Bisa dikatakan, nilai sebuah kebaikan menjadi lebih berharga ketika terdapat keburukan seperti halnya keinginan untuk bersih setelah mengetahui adanya kotor. Oleh karenanya, menolak keburukan secara membabi buta sama dengan menihilkan kebaikan.
Urgensi atas keseimbangan antara kebaikan dan keburukan juga sudah menjadi topik pembahasan di dataran Yunani beberapa abad silam. Empedokles, salah satu filsuf Yunani dalam teorinya mengatakan bahwa ada dua prinsip yang saling berlawanan mengatur perubahan alam semesta. Kedua prinsip ini dinamakan ‘cinta’ (philotês) dan ‘benci’ (neikos). Cinta merefleksikan kebaikan yang berfungsi untuk menggabungkan anasir-anasir dan benci mewakili keburukan berperan untuk menceraikannya. Melalui dua prinsip tersebut, konflik dan perubahan terus terjadi dan membentuk sebuah reinkarnasi yang menjaga alam semesta tetap hidup. Keduanya saling melengkapi berdasarkan peran dan fungsinya dalam menggerakkan alam semesta dan ketiadaan dari salah satu fungsi tersebut akan menyebabkan ketimpangan dan berujung pada kehancuran.
Selain untuk menyeimbangkan alam semesta, Iblis juga menjadi barometer kesuksesan manusia. Tanpa hasutannya, manusia tidak akan pernah bisa mengukur seberapa besar kepatuhannya kepada Allah Swt. Sebagaimana diceritakan oleh Shawni dalam The Madness of God tentang perkataan Iblis kepada Bukhairah, “Ia telah mengistimewakan aku, ketika aku menolak bersujud di hadapan Adam. Ia berkata padaku: mari kita pura-pura bertengkar, agar mereka yang membenci-Ku menampakkan dirinya melalui kau, dan kesaksian mereka melalui engkau akan memberatkan mereka di akhirat kelak”.
Dari sini, saya berkesimpulan bahwa keberadaan Iblis merupakan anugerah tak terhingga bagi manusia. Ia (Iblis) merelakan dirinya menjadi subjek dan objek atas kebobrokan dan dosa yang dilakukan oleh anak-cucu Adam. Tanpanya, gagasan-gagasan mengenai keadilan, kenabian dan akhirat tidak akan mendapat justifikasi dan berjalan di setiap rentang kausalitas manusia. Sekali lagi, keberadaannya lah yang menyebabkan turunnya nur Muhammad Saw ke dalam sebuah bayi yang dikandung Siti Aminah dan menjadi sang mesias bagi seluruh alam semesta. Oleh karenanya, mari membenci Iblis dengan objektif tanpa harus memaki-makinya atau bahkan meng-iblis-kan saudara sesama manusia hanya karena berbeda pandangan agama atau politik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda