SEKILAS INFO
: - Saturday, 04-07-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Nusantara Melahirkan Para Nabi

Nusantara Melahirkan Para Nabi

 

Oleh: Nur Luthfiyani Fajrin Mima

 

Keimanan kepada para nabi dan rasul ialah bagian dari rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim. Iman terhadap nabi dan rasul berimplikasi pada keyakinan bahwa Allah Swt turut membatasi dan mendesain ‘baik dan buruk’ bagi manusia melalui utusan-Nya. Selain itu, keberadaan para nabi dan rasul merupakan salah satu bentuk kasih sayang-Nya kepada umat manusia karena kebaikan yang diajarkan disesuaikan dengan kondisi dan tabiat mereka.

 

Tersebab posisi kenabian yang begitu mulia, banyak oknum yang sakit jiwa kemudian mengaku sebagai utusan Tuhan untuk meraih keuntungan pribadi. Sebagai contoh, tanggal 15 Januari 2019 terjadi penangkapan pimpinan Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP) Paruru Daeng oleh polisi di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Penangkapan tersebut berdasarkan laporan MUI Tanah Toraja bahwa pimpinan LPAAP telah melanggar KUHP tentang penistaan agama yaitu diduga mengaku sebagai nabi terakhir setelah Nabi Muhammad SAW dan memiliki sekitar lima ribu pengikut (kompas.com).

 

Tahun 2016, tribunnews.com memberitakan seorang pengasuh pondok pesantren Kahuripan ash-Shirôt Jombang bernama Jari bin Supardi yang mengklaim dirinya sebagai Nabi Isa kedua yang bergelar Isa Habibullah. Selain dua kasus tersebut, nama-nama seperti Imam Musadek, Lia Eden dan kawan-kawan telah mengawali proklamasi kenabian mereka di tahun-tahun sebelumnya. Melihat begitu banyak nabi yang lahir di bumi nusantara, terbersit pertanyaan dalam pikiran, apa penyebab dari kelahiran nabi-nabi di nusantara tersebut? Apa definisi dari nabi dan rasul dalam Islam?

 

Prof. Al Makin dalam bukunya “Challenging Islamic Orthodoxy” mengatakan bahwa prosesi kelahiran para nabi tidak hanya berkaitan dengan faktor personal pada setiap diri nabi yang membawa ajaran baru, namun juga para pengikut yang berjasa membangun karisma dan menyebarkan ajaran sang utusan tersebut. Kondisi sosial masyarakat menjadi faktor utama berjalannya konsep kenabian atau messianisme. Semakin besar kepercayaan masyarakat terhadap metafisika (ajaran tentang hal gaib), semakin besar pula potensi kemunculan utusan-utusan tuhan baru di sekitarnya, terkhusus di Indonesia.

 

Melihat begitu besarnya peranan sosio-kultural masyarakat, penulis buku “Challenging Islamic Orthodoxy” membagi kondisi sosial yang berpotensi memunculkan nabi, masyarakat metafisis (metaphysical society) dan tekanan sosial (social under pressure). Kondisi pertama, ketika masyarakat memiliki keterikatan yang kuat dengan perihal metafisika dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh kegiatan baik berskala kecil maupun besar harus dihubungkan dengan hal-hal gaib seperti berdoa, berkorban untuk arwah dan lain-lain. Tentunya, perilaku tersebut difasilitasi oleh agama dan adat istiadat dengan simbol dan tata cara peribadatan. Melalui koneksitas yang kuat antara masyarakat dan perihal metafisika, akan muncul seseorang yang merasa memiliki kedekatan khusus dengan hal gaib dan memproklamirkan diri sebagai nabi.

 

Kemudian pada kondisi kedua, ketika masyarakat merasa kehilangan identitas diri akibat penderitaan panjang yang dialaminya. Derita yang berujung pada penghilangan identitas pada manusia biasanya berupa penjajahan baik fisik maupun budaya dan penderitaan eksistensial lainnya. Di tengah kondisi yang terancam, masyarakat memimpikan sosok ratu adil atau sang mesiah yang dapat menyelamatkan mereka. Dari sini, muncul seseorang yang merasa superior dan pantas menjadi ratu adil kemudian mengaku sebagai nabi.

 

Indonesia telah mengalami dua kondisi tersebut baik secara bersamaan maupun terpisah. Masyarakat Nusantara telah mengalami perubahan agama secara dinamis selama berabad-abad mulai dari Hindu, Budha hingga Islam. Masing-masing agama memberikan pengalaman dan simbol metafisika yang berbeda-beda pada kehidupan warga Nusantara. Dari sana, para (calon) nabi mendapat inspirasi untuk membentuk ajaran baru atau modifikasi dari tradisi lama. Selain itu, Indonesia juga masih dalam kondisi terjajah hingga hari ini. Zaman dahulu ia dijajah oleh negara asing seperti Belanda, Jepang dan Inggris, sekarang dijajah oleh kemiskinan, ketidakadilan dan lain-lain. Hal tersebut membuat masyarakat mudah terkecoh dengan ucapan-ucapan para ratu adil yang membawa janji manis kesejahteraan.

 

Setelah menyaksikan kondisi di atas, saya berkesimpulan bahwa lingkungan sosial Indonesia merupakan lingkungan ideal untuk menciptakan khayalan atas sosok nabi. Basis keagamaan yang kuat ditambah dengan kondisi “sedang menderita” menjadi sebuah pasar tersendiri bagi para penjaja ajaran langit. Oleh sebab itu, gejala-gejala kenabian akan selalu mengemuka di setiap kesempatan yang ada dan memunculkan nabi-nabi baru.

 

Setelah membahas kondisi lingkungan sosial, saya beranjak ke pembahasan sosok nabi secara personal. Dalam buku “Qoul Sadîd” karya Dr. Mahmud Abu Daqiqah menyatakan bahwa terdapat perbedaan pada definisi kenabian. Menurut para filsuf, kenabian ialah prosesi penyucian dan pemuliaan diri yang didapatkan melalui beberapa proses seperti membebaskan diri dari  keburukan dan pembiasaan diri dengan kebaikan. Selanjutnya, menurut para ulama kalam adalah pengkhususan pada seorang hamba untuk mendengar wahyu dari Allah Swt mengenai hukum syariat dengan perintah untuk menyebarkan atau tidak. Adapun mengenai ciri-ciri yang telah memperoleh hal tersebut keduanya saling bersepakat seperti mengetahui hakikat alam semesta, memiliki perilaku khusus (mukjizat) dan melihat wujud malaikat.

 

Melalui kedua konsep tersebut, saya bisa menilai titik perbedaan antara filsuf dan ulama kalam pada prosesi pemberian jabatan kenabian itu sendiri. Bagi filsuf, kenabian itu hak milik bersama yang bisa didapatkan oleh siapapun yang sudah memenuhi kualifikasi. Bisa dikatakan, pemberian gelar nabi sama halnya dengan perolehan jabatan PNS yang hanya mengandalkan syarat-syarat yang berlaku. Sebaliknya, menurut ulama kalam bahwa kenabian ialah hak prerogatif Allah yang diberikan kepada hamba dan bersifat eksklusif. Oleh karena bersifat eksklusif, jumlah dan ketentuan akan sosok nabi ditentukan oleh Allah dan akan diberikan tanda khusus bagi manusia yang memperolehnya, baik secara fisik maupun pemberitaan dari nabi sebelumnya.

 

Jika memakai logika kenabian ala filsuf, maka fenomena di atas menjadi sah adanya dan tidak diperkenankan adanya aksi penangkapan atas para nabi tersebut. Akan tetapi, menurut saya logika tersebut justru memiliki risiko besar seperti penipuan, provokasi keburukan dan lain-lain yang berujung pada pengotoran identitas nabi. Oleh sebab itu, definisi kenabian milik ulama kalam lah yang relatif lebih aman karena pengukuhan kenabian berada pada kuasa Allah Swt. Kemudian atas dasar kuasa tersebut, Sang Maha Esa menentukan Nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia dan membawa ajaran bernama Islam. Ajaran tersebut menjadi muara dari seluruh ajaran sebelumnya dan berlaku hingga akhir masa.

 

Menjadi nabi tidak hanya sebatas prestasi dan menjadi mulia di hadapan manusia, namun juga tugas untuk membimbing umat manusia. Siapapun yang tidak sanggup memikul tanggung jawabnya, ia tidak pantas untuk mengaku-ngaku menjadi seorang nabi

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda