SEKILAS INFO
: - Friday, 25-09-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Membaca Sebuah Puisi di Lactobacillus Acidopilus

Membaca Sebuah Puisi di Lactobacillus Acidopilus

Saat itu, tiba-tiba teman saya menyodorkan sebuah buku antologi puisi yang baru-baru ini terbit berjudul Lactobacillus Acidopilus karya teman-teman Kelas Puisi Gamajatim. Kemudian, tanpa alasan yang jelas meminta saya untuk membuat ulasan singkat tentang buku puisi tersebut.

Tanpa dorongan yang jelas pula, akhirnya saya membaca satu per satu puisi dari sepuluh penyair dalam antologi tersebut dengan sekitar 129 puisi terhimpun pada sebelas bab.

Saya menduga bab-bab dalam antologi tersebut dibuat dengan tujuan untuk memolarisasi tema atau objek yang memisahkan satu puisi dengan yang lainnya. Namun demikian, saya masih belum merasa jelas terhadap alasan pemilihan judul berbahasa latin bermakna bakteri-bakteri baik tersebut dan relasinya dengan tema atau objek yang beragam dalam setiap puisi di dalamnya.

Sesungguhnya saya tidak berniat untuk membuat ulasan atau tulisan apa pun, sebab saya juga tidak memiliki alasan apa pun selain permintaan teman yang juga tanpa alasan. Namun usai membaca antologi tersebut, terbesit sebuah pertanyaan di benak, bagaimanakah semestinya puisi dibaca?

Pertanyaan ini, tentu tidak bermaksud untuk menelusuri tutorial khusus membaca puisi. Siapa pun tentu bebas membacanya, menilainya bahkan menafsirinya dengan cara apa pun. Namun untuk meraba makna yang terkandung di dalam puisi, agaknya akan menjadi rumit apabila saya harus bertanya langsung ke tiap-tiap penyairnya. Oleh sebab itu, ‘bagaimana ia dibaca’ juga menjadi penting dalam perjalanan sebuah puisi.

Barangkali, sebagai salah satu langkah mendasar dari upaya membaca puisi adalah pembacaan struktural. Puisi digambarkan sebagai suatu struktur yang utuh. Setiap kata memiliki unsur (konteks) dan terhubung dengan kata lainnya sehingga membentuk satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Artinya, satu unsur dapat berdiri kokoh dengan adanya unsur lain sebagai penopang, sehingga kita sebagai pembaca mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh pengarang dari relasi antar kata dalam sebuah puisi.

Kita mungkin bisa mengambil contoh dari salah satu puisi di dalam Lactobacillus Acidopilus dan membacanya sebagai suatu keutuhan. Kemudian mencoba meraba-raba makna yang diupayakan oleh penyairnya. Demi pembacaan tersebut, saya akan mengutip satu puisi utuh dari Aisyah Hanun yang berjudul Ode untuk Puisi:

Ketika aku membacanya,

Seakan aku masuk dalam delusi
yang aku menjadi nakhodanya
dengan meminjam sastra orang pribumi
dan mengalahkan pusat indra mereka

Seakan isi hatiku meluap
Memuntahkan perasaan para pesulap
yang mungkin sebagian sudah terlelap
Kemudian menyampaikannya agar terungkap

Seakan aku berhasil bermain peran
Belajar adegan-adegan di ujung angan
Padahal membuatnya pun aku masih berantakan
Aku berharap menjadi Anwar, Rendra dan kawan-kawan

Pada bait pertama (dengan satu kalimat yang belum selesai), kita tahu bahwa penyair berusaha untuk menceritakan perjalanannya menelusuri dunia puisi yang dibacanya. Perjalanan itu, kemudian ia jabarkan pada masing-masing tiga bait dengan imaji yang berbeda-beda.

Pada bait kedua, ia menggambarkan pengalamannya seperti menjadi seorang nakhoda. Namun entah mengapa, pada bait ini penyair seperti memutus begitu saja imaji tersebut tanpa menguatkannya dengan diksi yang dekat dengan nakhoda seperti kapal, laut atau dermaga. Malah lari kepada sastra orang pribumi atau pusat indra mereka. Relasi antar diksi di bait ini seolah terputus dan saya kesulitan untuk meraba imaji yang dibangun oleh Nona Hanun di dalam bait ini.

Barangkali penyair ingin membangun emosi berlatar sejarah dengan memasukkan diksi ‘pribumi’, sebagai orang-orang yang dijajah oleh kolonial. Maka saya menduga, delusi yang dimasuki pengarang adalah menjadi ‘nakhoda’ dalam sebuah peperangan melawan penjajah. Kemudian meminjam peralatan-peralatan perang kepada ‘pribumi’ lalu menghancurkan penjajahan. Atau dengan kata lain, penyair mencoba menggambarkan sebuah kisah heroik dengan tokoh utama si ‘aku’.

Sampai di titik ini, yang jadi pertanyaan adalah apakah gambaran tersebut muncul secara utuh di benak pembaca ketika relasi antar diksi justru terputus begitu saja?

Pemutusan itu ternyata masih berlanjut di bait ketiga. Kata ‘pesulap’ pada dasarnya dimaknai sebagai seseorang yang mahir dalam melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Seperti David Cooperfield yang mampu menghilangkan Patung Liberty lalu mengembalikannya atau Pak Tarno yang mampu mengeluarkan seekor kelinci dari topi bundarnya. Namun sayangnya, saya tidak memperoleh gambaran apa pun dari pemilihan kata itu. Dugaan saya, barangkali pengarang hanya sekedar menceritakan pengalamannya. Seolah-olah isi hatinya meluapkan perasaan para pesulap atau ia menjadi pesulap, begitu saja.

Kemudian, kata predikat ‘membuatnya’ pada bait terakhir agaknya muncul secara ambigu tanpa adanya keterikatan yang jelas dengan kalimat sebelumnya; berhasil bermain peran// belajar adegan-adegan di ujung angan. Tentu kata ganti ‘nya’ akan kembali kepada puisi. Terlebih di kalimat terakhir si pengarang memasukkan dua nama penyair besar Indonesia. Namun yang jadi pertanyaannya, apa yang terwujud ketika seseorang telah berhasil bermain peran atau belajar adegan-adegan?

Sepertinya, penyair hanya terfokus pada permainan rima di akhir baris; A-B A-B/ A-A A-A/ B-B B-B.

Demikian sebuah pembacaan singkat yang saya coba terapkan pada salah satu puisi di dalam antologi Lactobacillus Acidopilus. Dari upaya pembacaan struktural terhadap puisi di atas, barangkali ada beberapa celah dari ‘keutuhan puisi’ yang mungkin perlu untuk ditambal ulang. Tidak terkecuali pada puisi-puisi lain dalam antologi ini, tetapi sepertinya akan memakan banyak tempat apabila saya hadirkan pembacaan terhadap puisi-puisi lainnya. Lagi pula, bukankah permintaan teman saya hanya sekedar ulasan singkat?

Terakhir, saya selaku pembaca sangat mengapresiasi hadirnya buku puisi sebagai upaya dari sepuluh penyair tersebut untuk menapaki dunia puisi dan mengetahui apa yang disebut sebagai puisi itu tidak hanya berisi kata-kata, dibaca untuk kemudian ditutup kembali, begitu.

 

Oleh: Mukhammad Kafabih

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda