SEKILAS INFO
: - Friday, 10-07-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Menyikapi Persoalan yang Lahir dari Rahim Multikulturalisme

حَدَّثَنِا عبد الله حدثنى أبى حدثنى يَزِيدُ قَالَ أنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdillah, telah menceritakan kepada saya Abi telah menceritakan kepada saya Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah saw. “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: ” agama yang lurus dan toleran”. (HR. Ahmad, no 2141, shahih)
عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».
Artinya: Dari Abi Umamah dari Nabi Muhammad saw bersabda : “Siapa saja yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang karena Allah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan imannya.(HR. Abu Daud, no 4683, shahih)
حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتِ اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ يَهُودِىٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ .
Artinya: Telah menceritakan kepada kami al-A’masy dari Ibrahim dari Aswad dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah saw telah membeli Rasulullah saw. pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan cara menangguhkan pembayarannya lalu beliau menyerahkan baju besi beliau sebagai jaminan. (HR. Bukhari no 2096, shahih)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لاَ يَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِى جِدَارِهِ » . ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ مَا لِى أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَاللَّهِ لأَرْمِيَنَّ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ .
Artinya: Dari Abu Hurairah juga, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang tetangga menghalangi tetangganya yang akan menancapkan kayu pada temboknya.”Kemudian Abu Hurairah berkata: “Mengapa aku melihat kalian mengabaikan hal ini? Demi Allah, aku akan menancapkan diantara kalian” (HR. Bukhari no 2436, shahih)
حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رضى الله عنهما – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا » .
Artinya: Telah bercerita kepada kita Mujahid dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda,“Siapa yang membunuh kafir mu’ahadah (orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati), ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari no. 3166, shahih)
Bila dikompromikan, maka kandungan makna hadits di atas adalah:

  1. Islam adalah agama yang lemah lembut dan penuh toleran.
  2. Batasan toleransi Islam pada ranah mu’amalah bukan ranah aqidah.
  3. Perintah berbuat baik pada tetangga, siapapun orangnya, entah yang beragama Islam atau tidak.
  4. Larangan memerangi orang kafir yang sudah mendapat jaminan keamanan, baik yang dhimmi maupun mu’ahadah.

Secara historis lahirnya faham multikultural (multikulturalisme) sebenarnya relatif baru sekitar 1970-an. Muncul pertama kali di Kanada dan Australia, kemudian di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan lainnya. Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan budaya, etnik, gender, bahasa, ataupun agama.
Multikulturalisme memberikan penegasan bahwa dengan segala perbedaannya itu mereka adalah sama di dalam ruang publik. Multikulturalisme menjadi semacam respon kebijakan baru terhadap keragaman. Dengan kata lain, adanya komunitas-komunitas yang berbeda saja tidak cukup, sebab yang terpenting adalah bahwa komunitas-komunitas itu diperlakukan sama oleh negara.
Bagaimana Islam merespon pemahaman tersebut? Disadari atau tidak, multikulturalisme merupakan isu-isu kontemporer yang masih dalam perdebatan di kalangan umat Islam hingga saat ini, sehingga multikulturalisme bisa dikategorikan sebagai isu-isu sensitif dan kontroversi.
Sudah barang tentu membahas isu-isu seperti ini harus punya nyali, minimal ada kesadaran bahwa munculnya perbedaan penafsiran salah satu faktornya adalah perkara sudut pandang (perspektif) dan orang berspektif apapun tentunya tidak lepas dari faktor-faktor berikutnya, seperti pendidikan sekolah, pendidikan lingkungan dan masyarakatnya.
Di samping itu ada kesadaran bahwa menafsirkan agama tidaklah bisa kita lakukan secara parsial (sepotong-potong), melainkan harus secara komprehenship (menyeluruh) karena tanpa itu, ruh yang melekat dari agama bisa melayang. Begitu halnya membahas persoalan-persoalan yang dilahirkan dari rahim multikulturalisme, seperti yang terjadi pada saat ini, ketika kita dipimpin oleh seorang non muslim, entah kapasitasnya sebagai menteri atau gubenur hingga level RT.
Bila persoalanan tersebut kita kembalikan pada ruh hadits di atas, maka sikap kita harus tegas menolaknya, ketika pemimpin tersebut memerangi akidah Islam, berbuat tidak adil kepada kaum selain kaumnya, mengambil kebijakan yang melanggar syari’at Islam, misal tidak diperkenankan menjalankan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Kerjasama kita hanya sebatas hal yang berkaitan dengan mu’amalah yang dibungkus dengan bingkai ekonomi, sosial, politik dan pertahanan, sehingga tercipta masyarakat adil, makmur dan sejahtera.
Masyarakat yang faham dengan adanya multikulturalisme tentu akan bersikap toleran, mereka membela warga yang teraniaya, menghormati kebebasan beragama dan beribadah, saling menjaga fasilitas agama, menjaga hubungan bertetangga yang baik, mengadakan musyawarah apabila terjadi sesuatu diantara mereka, tidak saling menghina kelompok lain, saling tolong menolong dalam kesulitan, baik kesulitan sandang, pangan dan sebagaiannya.
Jika konsep mu’amalah dengan non muslim saja bisa dilakukan sedemikian rupa, maka ironis jika beda madzhab dalam Islam sendiri kita mengimplementasikannya dengan arogan dan tidak konsisten. Sejatinya, perbedaan golongan di antara umat Islam sendiri itu bagian dari multikultural.

Penulis : Dr. Yayuk Fauziyah, S.Ag, M.Pd.I

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda