SEKILAS INFO
: - Sunday, 20-09-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Nestapa Muslim di Era Modern
Tak bisa dipungkiri, perkembangan peradaban melejit begitu pesat dan mampu meningkatkan taraf kehidupan manusia di berbagai lini; mulai dari sains, informasi, teknologi, kesehatan, pendidikan dll.. Dimulai dari zaman pertengahan (Middle Ages) kemudian disusul dengan Renaissance Eropa hingga zaman modern, bahkan ada sebagian ilmuwan yang membagi zaman modern menjadi dua tipologi yang berbeda: modern dan post-modern.
Di zaman ini beragam kemajuan teknologi dan perkembangan pemikiran yang cukup fantastis telah dicapai. Namun di balik semua itu, ia menyimpan “kegelapan” yang mengotori akal dan hati manusia, serta mengorbankan nyawa manusia yang tak terhitung jumlahnya.
Berangkat dari zaman pertengahan, di mana zaman ini didominasi oleh hegemoni Kristen-Katolik hampir di seluruh zona kehidupan; yakni ekonomi, sosial, politik, pendidikan dll.. Melalui doktrin “Extra ecclesium nulla salus” (Tidak ada keselamatan di luar gereja), Kristen melakukan oposisi dengan membentuk tim inkuisisi (TheInquisition Team) untuk menghukum individu/kelompok yang mereka anggap heretics(Kafir) dan melawan gereja. Termasuk ilmuwan-ilmuwan yang menyanggah teori ilmu pengetahuan dalam Bible, seperti Giordano Bruno yang dibakar hidup-hidup dan Galileo Galilei yang dipenjara seumur hidup demi menjaga wibawa kekuasaan gereja.
Menyusul zaman Renaissance (Enlightenment) yang diwarnai oleh pemberontakan para saintis terhadap hegemoni gereja karena kejenuhan mereka terhadap pihak gereja yang selalu memaksakan kebenaran. Hal ini diawali dengan proses sekularisasi, yaitu pemisahan kehidupan masyarakat dari kungkungan agama yang dipelopori oleh Friedrich Gogarten. Selanjutnya dibakukan dengan konsep yang utuh oleh Harvey Cox, sehingga muncul aliran filsafat yang menuhankan akal oleh Rene Descartes dengan diktumnya “Cogito Ergo Sum” (Aku berfikir maka aku ada), dan diikuti oleh generasi penerusnya seperti Immanuel Kant, Georg Friedrich Hegel, David Hume, dll..
Kenyataan ini membuahkan hasil di zaman modern dan post-modern, di mana pemikiran sekularistik-atheistik mulai menjangkiti hampir di seluruh lini keilmuan. Pertama dimulai dari teologi yang diwakili oleh Ludwig Feurbach yang menyatakan bahwa agama lah yang menyembah manusia (Religion that worships man). Kemudian dari ilmu sains muncullah Charles Darwin yang mengutarakan teori evolusi dan menyingkirkan konsep penciptaan makhluk oleh Tuhan. Karl Max dengan teori “komunisme”nya menyatakan bahwa agama adalah faktor sekunder dan ekonomilah faktor primernya. Lalu tikaman paling menyakitkan bagi agama datang dari filsafat yang dikomandoi oleh Friedrich Nietzsche, Jacques Derrida, Jean Paul Sartre dengan kesimpulan bahwa Tuhan telah mati.
Sengaja saya mencamtumkan sedikit sejarah pergolakan peradaban Barat, karena sumber permasalahan era modern ini berasal dari peradaban Barat yang tersebar luas lewat arus Globalisasi. Dewasa ini, kita sebagai kaum muslimin merasakan betapa kuatnya arus globalisasi dan westernisasi yang melanda kehidupan ini. Mulai dari ranah sosial, semangat individualisme yang dikerahkan melalui “kapitalisme uang” dan secara perlahan menyingkirkan rasa kemanusiaan dan kasih sayang. Hal ini sudah diwanti-wanti oleh Sir Muhammad Iqbal dalam sebuah pernyataan di bukunya Javid Namah “Her eyes lacks of tears of humanity because of the love of gold and silvers.
Kemudian sekularisasi digalakkan di seluruh sektor kehidupan; seperti politik, pendidikan, seni budaya dll., yang mengakibatkan marginalisasi peran agama yang mereka anggap sebagai “pembunuh kebebasan”. Seperti apa yang dikatakan oleh Jean Paul Sartre “If the God existed we must reject Him, since the idea of God negates our freedom” (Jika Tuhan itu benar-benar ada kita harus menolak keberadaannya, karena ide tentang adanya Tuhan membunuh kebebasan kita). Dalam ranah politik sekularisasi digalakkan melalui privatisasi agama, dengan cara menjauhkan pemerintahan dari urusan agama agar pemerintah dianggap bersifat netral. Dalam ranah pendidikan, berbagai teori dan ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan mulai sekolah dasar sampai universitas masih “alergi” memasukkan wahyu (Al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber ilmu yang ilmiah. Sehingga para pelajar diajari sikap dualisme yang menggiringnya menjadi pribadi yang tidak punya integritas dan munafik. Sebagai contoh, ketika di sekolah para pelajar diajari asal usul manusia berasal dari hominid yang sebangsa kera (Pelajaran Biologi), dan di saat yang sama ketika pelajaran agama (PAI) dijelaskan bahwa manusia adalah keturunan Nabi Adam. Dari contoh sederhana ini kita bisa melihat bahwa para pelajar dididik menjadi “Split Personality” atau pribadi yang bingung, karena pelajarannya mengajarkan dua hal yang berbeda dalam satu objek ilmu. Sehingga para pelajar cenderung mendikotomi dua hal yang seharusnya tauhidi atau bisa diintegrasikan yaitu antara kehidupan dan agama.
Dan kenyataan paling memilukan bagi umat Islam adalah paham “Pluralisme Agama”, di mana kita dipaksa untuk mengakui agama lain sebagai agama yang diridhoi oleh Allah atas nama toleransi dan Hak Asasi Manusia (HAM). Melalui upaya  tersebut peradaban Barat yang disebarkan melalui globalisasi mengajak umat manusia untuk melakukan “Atheisasi kehidupan”, yang menyingkirkan semua agama termasuk agama Islam dari ruang lingkup kehidupan dan menjadi manusia Barbar yang tidak ada bedanya dengan hewan dan mengarahkan manusia ke arah palung kegelapan.

Oleh:  M. Fikri Zulkarnain Nawawi
Salam TREMCO GAMAJATIM

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda