SEKILAS INFO
: - Thursday, 27-02-2020
  • 1 tahun yang lalu / Mulai 19, November 2018 cek status visa bisa melalui website Gamajatimmesir.org dengan menulis nama atau paspor di kolom pencarian cek visa.
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi GAMAJATIM!  memberikan informasi tentang warga Jawa Timur di Mesir khususnya, juga negara Mesir bagi mereka yang tertarik.
Indonesia Raya; Tiga Elemen Dasar Merekonstruksi Peradaban ala Islam
Manusia pilihan itu akhirnya datang juga, dengan membawa risalah akhir, penyempurna risalah para nabi terdahulu, ialah Baginda Muhammad Saw.
Beliau mengawali dakwahnya di kampung halaman, Mekah. Akan tetapi, tantangan teramat berat, bahkan sebagian dari sanak keluarga sendiri malah memusuhinya, karena dianggap sebagai pemecah belah umat, sampai membujuknya, menawarkan berbagai perhiasan dunia, tetapi beliau tetap bertekad menyebarkan risalah tersebut. Sampai beliau pernah bersabda, “Seandainya mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tetap tidak akan berhenti dari dakwah ini.”
Karena keadaan tak kunjung membaik, bahkan sampai banyak sahabat yang disiksa oleh kaum Kafir Quraisy. Singkat cerita, kaum muslimin kemudian hijrah ke Madinah. Sebelum memutuskan hijrah ke sana, memang orang Madinah sudah memberikan tawaran baik kepada kaum muslimin Mekah. Pasalnya, waktu musim haji tiba, mereka mendengar dari orang Mekah, bahwa ada orang gila, setelah mereka menyaksikannya, dengan tanpa ragu, mereka mengatakan bahwa ini bukanlah orang gila. Tetapi, seorang nabi dan rasul terakhir yang sering disebut-disebut oleh kaum Yahudi Madinah. (Mereka menyangka kalau rasul terakhir adalah dari Bani Israil, namun ternyata dari Bani Ismail).
Orang Madinah menyambut dengan baik kedatangan kaum muslimin Mekah. Dari sinilah fase peradaban Islam dimulai, fase baru sebuah gerakan yang nantinya akan menjadi sebuah gerakan yang mendunia. Islam menjelma menjadi sebuah agama besar dalam waktu relatif singkat. Orang Madinah lebih mudah menerima Islam dibandingkan orang Mekah, dakwah Islam tersebar luas.
Tindakan awal yang diambil Rasulullah Saw. dalam hal ini ialah membangun sebuah tempat ibadah. Kenapa sebuah tempat ibadah? Karena keberadaan tempat ibadah merupakan suatu hal yang sangat urgen. Tempat ibadah melambangkan sebuah hubungan erat antara manusia dengan Tuhannya, sebuah hubungan vertikal yang menjadi kekuatan utama, bahwa segala hal yang dihadapi tidak akan bisa lepas dari campur tangan Allah Swt. Tidak ada usaha mutlak dari seorang manusia, kecuali diikuti dengan kemauan untuk bersandar kepada Tuhannya. Dengan kata lain, hal ini merupakan spirit ruhiah yang akan senantiasa mengisi ruang-ruang pergerakan. Kekuatan utama adalah dengan menjalin hubungan baik dengan Sang pencipta.
Langkah kedua, Rasulullah kemudian mempersaudarakan antara kaum muslimin Mekah, yang merupakan kelompok pendatang (muhajirin), dengan penduduk asli Madinah (anshar). Hal ini tentunya untuk menguatkan hubungan horizontal sesama umat Islam. Hal ini menjadi sangat penting, dengan alasan bahwa ketika penduduk pendatang dengan penduduk asli tidak tercipta hubungan yang harmonis, maka semua harapan dan cita tidak akan bisa terwujud. Karena jelas, suatu saat tidak menutup kemungkinan akan terjadi ketidakpuasan dari salah satu pihak, yang pada akhirnya akan berpengaruh buruk pada sebuah tatanan kemasyarakatan yang ada. Namun, karena hubungan persaudaraan itulah, akhirnya hubungan antara muhajirin dan anshar begitu kokoh, kaum anshar rela berbagi dengan saudaranya, hartanya, perkebunanya, bahkan sampai yang punya istri lebih dari satu, rela memberikan istrinya pada saudaranya, ini menunjukkan bahwa ikatan iman yang ada telah membuang semua batas perbedaan.
Pada tahap selanjutnya, ketika Rasulullah sudah mulai merancang Madinah sebagai tempat yang mempunyai tata sistem dan ketundukan di bawah hukum, banyak dari para pejabat yang terpilih adalah dari kaum pendatang, tetapi kaum Anshar yang merupakan penduduk asli menerima dengan lapang hal tersebut. Mereka sama sekali tidak menuntut harus ambil bagian. Ini sebagai bukti bahwa mereka rela dan ikhlas dengan semua keputusan yang diambil oleh Rasulullah.
Fase yang tidak kalah pentingnya ialah, Rasulullah membuat kesepakatan damai dengan kaum Yahudi Madinah, yang juga merupakan penduduk asli Madinah. Meskipun mereka minoritas, Rasulullah tidak lantas berbuat semena-mena pada mereka. Mereka tetap dihargai dan diperlakukan dengan baik. Mereka tetap bebas memeluk keyakinan mereka, tetapi dengan batasan nota kesepakatan yang ada. Islam sama sekali tidak mengintervensi mereka. Hal tersebut menjadi sangat penting, supaya keragaman yang ada tidak menjadi problem di masa mendatang, karena walau bagaimana pun, percikan api dari sebuah perbedaan akan punya pengaruh besar dan bisa menyuburkan benih-benih perpecahan.
Tiga langkah penting yang diambil Rasulullah dalam membangun negara madani tersebut, tampaknya akan tetap relevan sepanjang zaman, dan di mana pun juga, termasuk di Indonesia. Umat Islam yang merupakan kaum mayoritas di Indonesia bisa mengadopsi sistem tersebut dalam membangun bangsa. Hal paling awal yang harus dioptimalkan ialah kesadaran umat Islam, bahwa mereka harus membenahi hubungan dengan Tuhan mereka, dengan ungkapan yang lebih sederhana, mereka harus menjadi umat yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, karena seperti ungkapan seorang Jamal al Banna, umat Islam tetap akan bisa menjalankan Islamnya walau tanpa negara.
Selanjutnya, umat Islam Indonesia dengan berbagai warna dan coraknya, harus rela disatukan dengan tali pancasila, harus rela memegang merah putih bersama, harus siap menjunjung tinggi garuda, apa pun latar belakangnya. Mau dari ormas ini, ormas itu, dalam kehidupan bernegara, itu tidak lagi menjadi hal yang penting untuk senantiasa ditumbuhsuburkan. Islam menjamin adanya keberagaman, karena itu merupakan konsekuensi logis dari dibebaskannya seorang insan untuk berpikir. Islam tidak mengekang kebebasan berpikir asal masih berjalan dalam koridor yang ada.
Umat Islam Indonesia harus siap melebur semuanya, demi harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah tidak zamannya lagi mempermasalahkan hal kecil, selama hal itu bukan merupakan hal yang prinsipil, rasanya tidak perlu untuk diangkat ke permukaan, karena malah akan jadi duri dalam daging. Banyak hal yang sejatinya merupakan sesuatu yang esensial, malah seakan terabaikan hanya karena sibuk dengan hal yang sifatnya artifisial semata. Kuncinya adalah umat Islam harus mau melebur demi Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Sebagai negara yang heterogen, negara dengan keragaman dalam semua bidang, lagi-lagi umat Islam Indonesia harus mau membaur dengan orang dari pemeluk agama lain. Sehingga, Islam tidak selalu lekat dengan stigma negatif. Militansi beragama tetap perlu, tetapi harus dengan cara yang baik. Memperjuangkan kepentingan umat Islam sangat perlu, namun harus dilakukan dengan tanpa mengabaikan hak umat lain, yang juga sebagai warga negara yang sah dan diakui secara hukum di nusantara tercinta. Jangan sampai malah memunculkan sentimen keberagamaan yang justru akan merusak sendi-sendi kehidupan bernegara. Umat Islam adalah penentu maju mundurnya bangsa Indonesia. Karena, mereka adalah kaum mayoritas. Dengan tanpa meniadakan eksistensi umat lainnya tentu saja.
Semoga Islam bisa segera memutar roda kejayaan peradabannya, dan semoga Indonesia bisa bangkit dari tidur panjangnya sebagai bangsa yang besar dan bermartabat di mata dunia.

​​Penulis: Fakhrudin al-Brengkowi

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda